Di balik menjamurnya menu berbasis nabati (plant-based) di berbagai restoran, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh konsumen: kegiatan R&D atau penelitian dan pengembangan. Menciptakan patty yang mampu meniru tekstur dan rasa daging sapi asli bukanlah pekerjaan mudah. Banyak pemilik bisnis kuliner yang ingin masuk ke pasar ini harus berani mengalokasikan biaya yang tidak sedikit untuk serangkaian eksperimen guna menciptakan produk burger nabati yang benar-benar bisa diterima oleh lidah pasar.
Biaya terbesar dalam riset ini adalah pada pemilihan bahan baku. Untuk mendapatkan tekstur yang “berserat” menyerupai daging, peneliti sering kali harus menggunakan isolat protein kacang polong, ekstrak bit untuk warna, hingga minyak kelapa untuk memberikan efek “lemak” yang lumer saat dipanggang. Mencari kombinasi bahan yang tepat memerlukan trial and error yang berkali-kali. Setiap kegagalan dalam eksperimen—misalnya rasa yang terlalu langu, tekstur yang terlalu lembek, atau bau yang tidak sedap—berarti pemborosan bahan baku yang sudah dibeli dengan harga mahal.
Selain bahan, aspek teknis pengolahan juga sangat krusial. Bagaimana protein nabati berinteraksi dengan suhu tinggi di atas panggangan? Bagaimana cara menjaga kelembapan patty agar tidak kering saat dimasak? Proses ini sering kali membutuhkan konsultasi dengan ahli pangan atau teknolog pangan yang memiliki spesialisasi di bidang tekstur. Biaya untuk tenaga ahli ini bisa menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar bagi bisnis kecil atau menengah yang ingin mengembangkan produk in-house.
Sering kali, pemilik bisnis harus melakukan pengujian rasa (blind test) kepada ratusan calon pelanggan untuk mendapatkan data yang valid. Proses pengumpulan feedback ini membutuhkan waktu dan tenaga. Anda harus menyediakan sampel gratis, menyusun kuesioner, dan menganalisis data hasil uji tersebut. Data inilah yang akan menentukan apakah produk sudah siap diluncurkan atau harus kembali ke laboratorium untuk penyempurnaan lebih lanjut. Tanpa riset yang kuat, produk yang diluncurkan hanya akan berakhir sebagai menu gagal yang justru merusak reputasi restoran Anda.
